Saatmembuat kue ditemukan 'soda kue' dan 'baking powder' dalam resep. 31.677 resep soda kue dan baking powder ala rumahan yang sederhana dan lezat dari komunitas memasak terbesar dunia! 1.620 resep kue tanpa telur dan baking soda ala rumahan yang sederhana dan lezat dari komunitas memasak terbesar dunia! Sambal Temu Kunci. Dapatkan link
Jakarta - Makanan yang terbuat dari tepung ketan ini sangat enak rasanya, teksturnya yang sedikit liat dan ada sedikit perlawanan saat mengunyahnya. Dan semburat manis gurih dari isian kelapanya menambah nikmat kue yang satu ini. Apalagi kalau ditemani secangkir kopi atau teh hangat. Hmm..nyummy!Entah darimana nama kue ini diambil, tapi yang saya tahu kue ini menjadi kue khas antaran setiap masyarakat Betawi yang akan melangsungkan pernikahan. Atau makanan yang sering ditemui saat lebaran tiba. Tiba-tiba saja saya ingin menyelidiki asal muasal nama kue ini. Kue Bugis, awalnya saya mengira ini kue khas masyarakat Bugis. Tapi ketika saya bertanya kepada teman saya yang kebetulan orang Bugis, ternyata dia malah tidak tahu menahu tentang kue yang satu ini. Setelah bertanya-tanya, ternyata kue ini memiliki banyak nama. Contohnya saja jika di Jawa kue ini biasa disebut dengan kue mendut. Bahan utama yang digunakan tetap sama, hanya saja tepung ketan putih ini diberi air daun suji atau pandan sehingga adonan berwarna hijau dan wangi baunya. Tak lupa diberi isian enten alias kelapa muda parut yang dimasak dengan gula di Jawa lain juga di Sumatra Padang kue ini disebut juga 'lapek Bugis' atau lepat bugis. Terbuat dari tepung ketan hitam dengan isian enten. Tapi enten ini dimasak dengan gula putih, berbeda dengan kue mendut yang entennya di masak dengan gula tidak hanya berbeda nama, cara membungkusnya pun juga berbeda. Kalau di Jawa dibungkus dengan daun pisang muda dan dilipat segiempat seperti membungkus kue pisang, sedangkan di Sumatra di taruh kedalam daun pisang yang telah dipincuk kemudian dilipat menyerupai piramida. Keduanya diberikan areh atau santan kue Bugis yang terkenal di Jakarta ini umumnya sudah dimasak terlebih dahulu sampai matang barulah dibungkus dengan daun pisang yang masih muda. Sebelumnya daun tersebut telah diolesi dengan minyak kelapa agar adonan kue tidak menempel, baru kue dilipat segi kalau di daerah Anda dikenal dengan nama apa? eka/Odi
jualterima pesanan aneka kue kering&basah jalan kapten abdullah, Tanete, South Sulawesi, Indonesia 911611 Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Makanan di Kota Makassar tidak melulu ikang bakar, coto, atau sop saudara. Ada juga beragam kue tradisional yang bisa Anda cicipi jika berkunjung khas masyarakat Bugis-Makassar terkenal dengan rasanya yang khas, manis, dan gurih. Pokoknya, makan satu saja tidaklah Bugis Makassar dikenal sebagai kaum cendekiawan berintelektual tinggi. Makna filosofis marak mengisi nilai kebudayaan. Mulai dari kebiasaan hingga acara-acara adat. Semuanya memiliki maknanya tersendiri. Bahkan termasuk kue yang disajikan bagi tamu. Tulisan kali ini akan membahas mengenai jenis-jenis kue tradisional khas Bugis-Makassar. Di antaranya sangat sesuai menemani Anda untuk berbuka puasa. Jangan lupa juga untuk menyimak maknanya. Makanan akan terasa lebih lezat jika ada kisah yang Barongko Dalam upacara adat orang Bugis dan Makassar, seperti sunatan, akikah, dan pesta penikahan, barongko termasuk kue dasarnya adalah pisang kapok, dihaluskan dengan bahan lainnya seperti gula pasir, santan kental, telur, garam, dan perisa vanili. Dibungkus dengan daun pisang dengan pola segitiga. Enak jika dihidangkan dingin. Itulah mengapa barongko sering ditemukan selama bulan suci Ramadan. Sebabnya cocok dihidangkan sebagai makanan pembuka mengandung filosofis yang mendalam. Merupakan singkatan dari bahasa bugis, barangku mua udoko. Dalam bahasa Indonesia berarti barangku sendiri yang tersebut mendasari filsafat utama dalam budaya Bugis-Makassar, yaitu Siri' harga diri. Jadi, membungkus "barangku" adalah menjaga harga diri yang merupakan nilai utama dari Siri.' 1 2 3 4 Lihat Foodie Selengkapnya Beberapakue tradisional khas Bugis adalah katirisala, jungkir balik, jatuh bangun, kaddo boddong, palopo, tumbuk, tarajju atau taraju, dan lain-lain. Nah, kira-kira apa lagi yah? Berikut ini merupakan berbagai macam jajanan dan kue khas Bugis yang harus dicoba ketika kulineran di Sulawesi Selatan: Sepertinya Anda menggunakan alat otomatisasi untuk menelusuri situs web kami. Mohon verifikasi bahwa Anda bukan robot Referensi ID 7ec71fcc-0b76-11ee-9340-475a5a564e56 Ini mungkin terjadi karena hal berikut Javascript dinonaktifkan atau diblokir oleh ekstensi misalnya pemblokir iklan Browser Anda tidak mendukung cookie Pastikan Javascript dan cookie diaktifkan di browser Anda dan Anda tidak memblokirnya.
BerandaPolitik Nikmati Kue Khas Bugis, Ganjar Pranowo Ngopi Bareng Syahrul Yasin Limpo di Makassar. Mereka menyantap kuliner lokal Apang Bugis. Ganjar dan Syahrul sama-sama punya kegemaran berolahraga pagi. Minggu (8/5/2022) adalah hari ketiga kunjungan Ganjar Pranowo di Kota Makassar. Masyarakat Selayar Siapkan Silaturahmi dan Temu
Makassar - Katirisala merupakan kue tradisional khas Bugis yang biasa dihidangkan di acara-acara atau pada tradisi kebesaran masyarakat Bugis, Sulawesi Selatan Sulsel. Kue ini memiliki cita rasa paduan gurih dan manis yang unik namun bikin ini terdiri dari dua lapisan, lapisan bawah dibuat dengan bahan dasar ketan yang dicampur dengan santan. Sedangkan lapisan atasnya dibuat dari telur, santan, dan gula merah sehingga menghasilkan tekstur yang kenyal dengan perpaduan rasa manis dan biasanya dibuat dalam satu loyang berukuran besar dengan cara dikukus. Setelah matang, kue ini akan disajikan dalam potongan yang lebih kecil sesuai selera. Kue tradisional ini bahkan sudah ditetapkan sebagai salah satu warisan budaya tak benda oleh Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya Republik Indonesia dengan nomor registrasi 20150055096 pada tahun Universitas Negeri Hasanuddin Unhas, Dr Firman Saleh mengatakan, kue tradisional ini berasal dari wilayah Ajatappareng. Hal ini sebagaimana yang dijelaskan dalam buku-buku dan tulisan lama."Katirisala itu dijelaskan dalam buku-buku dan tulisan-tulisan lama bahwa dia berasal dari Ajatappareng. Ajatappareng itu meliputi wilayah Sidrap, Parepare, Pinrang tapi dulu dikenal dengan wilayah Ajatappareng," jelasnya, kepada detikSulsel pada Jumat 24/2/2023.Kendati demikian, Firman mengatakan belum ada keterangan yang menjelaskan kapan kue katirisala ini mulai ada secara pasti. Namun, diperkirakan kue ini mulai dikenal oleh masyarakat Bugis pada abad ke-17."Dalam sejarah, belum ada yang menjelaskan kapan tepatnya kue itu ada, tapi itu diperkirakan di abad ke-17. Buktinya dengan adanya bosara yang hadir di tengah-tengah kegiatan-kegiatan tradisi. Katirisala dihidangkan di atas bosara," ungkap katirisala biasa dihidangkan untuk acara besar, baik kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh para bangsawan maupun acara-acara besar lainnya."Contohnya orang Bugis menyebut misalnya maccera banua, kegiatan mengagungkan/membesarkan sebuah wilayah dengan menghargai para leluhur yang ada di sekitarnya, hidangkanlah makanan itu," kata Firman."Kegiatan-kegiatan yang dilakukan di wilayah kerajaan, dihidangkan juga makanan itu," menjelaskan, katirisala berasal dari kata 'tiri' yang berarti 'menetes' dan 'sala' yang berarti 'salah', yang secara harfiah artinya salah tetes. Arti kata ini merujuk pada lapisan gula merah pada kue ini yang dalam proses pembuatan dan penyajiannya berbeda."Jadi, ini sebenarnya punya filosofi. Harusnya dalam pembuatan kue itu ketannya dulu baru gulanya. Tapi ini terbalik, karena gulanya itu tiri, menetes, atau lari ke bawah, sehingga dalam penyajiannya itu dibalik, gulanya yang di atas dan ketannya yang di bawah," tradisional yang terbuat dari ketan dan gula yang memiliki rasa manis ini juga memiliki filosofi masing-masing yang erat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari. "Filosofinya dalam masyarakat Bugis itu, gula kan manis, jadi sebuah simbol supaya orang-orang yang melakukan kegiatan ritual itu, orang atau pengunjung bisa lebih akrab, penglihatannya tetap bagus, kehidupannya bagus, sebagaimana seperti gula yang manis," ungkapnya."Jadi harapannya semuanya akan terkesan baik, bagus dipandang, bagus dilihat, perasaannya orang juga selalu bagus. Sedangkan songkolo atau ketan ini merupakan simbol kekuatan," tambahnyaKue katirisala ini juga diharapkan dapat menjadi harapan dan doa agar kehidupan yang dijalani senantiasa berjalan dengan baik."Jadi jika orang memakan songkolo ditambah gula merah, itu menjadi sumber kekuatan bagi masyarakat Bugis," mengatakan katirisala merupakan makanan khas Sulawesi Selatan yang perlu dilestarikan. Hal ini yang lantas mendasari kuliner ini dimasukkan dalam daftar warisan budaya tak benda."Karena dia juga menjadi makanan yang perlu dilestarikan, yang perlu dijaga keberadaanya. Sehingga dia masuk ke Warisan Tak Benda. Karena kapan pembuatnya sudah tidak ada lagi, maka tidak ada lagi yang meneruskan cara dan resep pembuatan kue itu," kata Membuat Katirisala Khas BugisBahan untuk membuat ketan300 gr ketan putih200 gr ketan hitam500 ml santan sedang1/2 sdt garamBahan untuk membuat lapisan gula merah350 gr gula merah iris halus100 ml santan kental6 butir telur2 sdm gula1/4 sdt vanili bubukCara membuat1. Campurkan ketan hitam dan putih dalam wadah, lalu rendam dengan air panas selama 1 jam, jika menggunakan air dingin rendam selama 2 jam. Setelah itu cuci bersih beras ketan yang telah direndam Setelah dicuci bersih, kukus ketan dengan setengah matang dan tambahkan santan serta 1/2 sdt garam. Masak menggunakan api sedang sambil terus diaduk kemudian tunggu sampai santan Setelah santan menyerap semua dan ketan sudah setengah matang, matikan Selanjutnya, siapkan loyang yang telah dilapisi plastik kemudian kukus kembali ketan menggunakan api sedang selama 15 Sambil menunggu ketan yang dikukus, siapkan campuran untuk lapisan gula Campurkan semua gula merah, santan kental, telur, gula pasir, serta vanili bubuk lalu aduk hingga Setelah semua bahan telah tercampur rata, masukkan lapisan gula merah ke atas ketan yang telah dikukus. Kemudian, kukus kembali selama -/+ 35 menit. Jika katirisala sudah padat itu berarti kue sudah Setelah dingin, potong kue katirisala sesuai selera. Kue katirisala siap dihidangkan. Simak Video "Laris Manis Penjualan Serabi di Jawa Timur saat Perayaan Imlek 2023" [GambasVideo 20detik] urw/alk

Misalnyaseperti jahe, temulawak, buah pepaya, dan lain-lain. Tapi, beberapa tanaman ini mungkin masih asing di telinga Anda. Padahal, ternyata tanaman-tanaman berikut ini juga kaya manfaat, lho! Anda pun bisa menanamnya di pekarangan rumah agar lebih mudah saat dibutuhkan. Ini dia 15 tanaman obat dan manfaatnya!

Daftar Isi 1. Katirisala 2. Pisang Ijo 3. Jalangkote Butung 5. Taripang 6. Bolu Cukke 7. Sanggara Balanda 8. Barongko 9. Kue Karasa Makassar - Kue khas Bugis kerap disajikan di berbagai acara-acara penting seperti pernikahan, aqiqah, dan acara adat lainnya. Kue khas Bugis umumnya memiliki sejarah dan filosofi tertentu yang erat kaitannya dengan nilai-nilai kehidupan dalam masyarakat suku BugisUmumnya kue khas Bugis ini diolah secara tradisional, mulai dari alat hingga proses pembuatannya masih belum tersentuh teknologi. Pengolahan secara tradisional bertujuan untuk menjaga cita rasa dan filosofi tertentu yang terkandung dalam proses mengandung filosofi yang mendalam, kue khas Bugis ini umumnya memiliki cita rasa yang unik dan sangat khas. Tak heran, kue-kue ini kerap menjadi sangat populer di masyarakat. Berikut detikSulsel akan mengulas ragam kue khas Bugis lengkap dengan sejarah dan filosofinya. Simak selengkapnya berikut ini!1. KatirisalaKatirisala, kue khas bugis Foto YoutubeKue Katirisala merupakan makanan khas Bugis yang kerap mengisi hidangan dalam upacara adat utamanya dalam upacara pernikahan. Kue ini menjadi hidangan utama, dalam masyarakat Bugis disebut dengan istilah "indo beppa".Sementara itu, Budayawan Universitas Negeri Hasanuddin Unhas, Dr Firman Saleh menjelaskan asal muasal kue tradisional ini. Berdasarkan buku-buku dan tulisan lama hidangan ini berasal dari wilayah Ajatappareng Sidrap, Parepare, dan Pinrang."Katirisala itu dijelaskan dalam buku-buku dan tulisan-tulisan lama bahwa dia berasal dari Ajatappareng. Ajatappareng itu meliputi wilayah Sidrap, Parepare, Pinrang tapi dulu dikenal dengan wilayah Ajatappareng," jelasnya, kepada detikSulsel pada Jumat 24/2/2023.Kendati demikian, Firman kembali menegaskan tidak penjelasan pasti mengenai kapan awal mula kue manis ini dibuat. Namun, diperkirakan kue ini mulai dikenal oleh masyarakat Bugis pada abad ke-17."Dalam sejarah, belum ada yang menjelaskan kapan tepatnya kue itu ada, tapi itu diperkirakan di abad ke-17. Buktinya dengan adanya bosara yang hadir di tengah-tengah kegiatan-kegiatan tradisi. Katirisala dihidangkan di atas bosara," ungkap itu, katirisala juga sarat dengan nilai-nilai filosofi yang tercermin dari namanya. Katirisala berasal dari kata 'tiri' yang berarti 'menetes' dan 'sala' yang berarti 'salah', yang secara harfiah artinya salah kata salah tetes merujuk pada lapisan gula merah pada kue. Pada awal pembuatan dan penyajian gula dalam lapisan kue ini ada kesalahan."Jadi, ini sebenarnya punya filosofi. Harusnya dalam pembuatan kue itu ketannya dulu baru gulanya. Tapi ini terbalik, karena gulanya itu tiri, menetes, atau lari ke bawah, sehingga dalam penyajiannya itu dibalik, gulanya yang di atas dan ketannya yang di bawah," ini dikenal dengan rasa manis dari gula merahnya. Di balik itu, ada filosofi berupa harapan kehidupan yang saling mengasihi dengan orang sekitar."Filosofinya dalam masyarakat Bugis itu, gula kan manis, jadi sebuah simbol supaya orang-orang yang melakukan kegiatan ritual itu, orang atau pengunjung bisa lebih akrab, penglihatannya tetap bagus, kehidupannya bagus, sebagaimana seperti gula yang manis," ini juga dikenal dengan nasi ketan yang ada di bawah gula. Songkolo atau nasi ketan ini memiliki simbol ketahanan."Songkolo atau ketan ini merupakan simbol kekuatan," tambahnyaKue katirisala ini juga diharapkan dapat menjadi harapan dan doa agar kehidupan yang dijalani senantiasa berjalan dengan baik."Jadi jika orang memakan songkolo ditambah gula merah, itu menjadi sumber kekuatan bagi masyarakat Bugis," Pisang IjoEs Pisang Ijo Foto istimewaPisang Ijo merupakan olahan pisang raja yang dibalut adonan tepung berwarna hijau. Kudapan ini disandingkan dengan fla dan kerap ditambahkan dengan sirup ambon atau sirop DHT dan taburan ke-17 menjadi awal mula Pisang Ijo diperkenalkan. Keberadaan kue ini dilatarbelakangi oleh eksperimen masyarakat Bugis-Makassar dalam mengolah Saleh mengatakan dahulu masyarakat Bugis melakukan percobaan terhadap bahan-bahan yang tersedia. Sedangkan, pisang pada saat itu merupakan makanan pokok."Masyarakat Bugis melakukan eksperimen berdasarkan pada benda-benda yang ada di sekelilingnya, contohnya pisang. Pisang merupakan bahan utama baik berupa cemilan ataupun makanan pengganti," jelas Firman kepada detikSulsel, Selasa 28/3/2023.Pisang ijo terdiri atas dua kata yaitu pisang dan ijo. Kata pisang diambil karena kue ini berbahan dasar pisang, sedangkan kata ijo merupakan warna kulit pisang yang hijau dari sari daun pisang ijo awalnya berbahan dasar tepung yang kental. Namun seiring perkembangan zaman, kuahnya mulai divariasikan."Makan khas Sulawesi Selatan yang sudah dipadukan dengan sirup DHT, namun awalnya hanya pisang ijo dan kuah yang terbuat dari tepung," kata seperti kue khas Bugis lainnya, pisang ijo juga sarat dengan filosofi yang telah dipercaya masyarakat. Terdapat akulturasi pada tampilan warna Pisang Ijo."Hijau merupakan warna bangsawan khususnya bagi masyarakat Bugis-Makassar. Setelah terjadi akulturasi Bugis-Makassar dan Islam, warna hijau dianggap warna surga," ujar sisi lain, bentuk pisang ijo sesuai besaran pisang disimbolkan sebagai kelaki-lakian. Sedangkan kulit pisang hijau sebagai sarung."Pisang disimbolkan sebagai kelaki-lakian. Pisang merupakan simbol laki-laki yang harus dibungkus. Kulit pisang ijo merupakan sarung untuk membungkus pisangnya, dari aspek filosofi tanda," tutup JalangkoteJalangkote Foto DetikfoodJalangkote merupakan makanan khas Bugis yang mulai diperkenalkan ke masyarakat pada abad ke-19. Oleh karena itu, makanan ini termasuk jenis makanan modern."Kalau sejarahnya itukan makanan modern sudah masuk makanan modern yah. Karena dia hadir nanti di abad ke-18 atau 19, seribu sembilan ratusan mi baru muncul," jelas Firman kepada detikSulsel, Senin 27/3/2023.Rasa kue ini sangat gurih sehingga eksis di segala momen. Baik itu pada kegiatan hajatan maupun di bulan Ramadhan, makanan ini selalu memiliki tempat di hati memiliki nama yang cukup menarik dan sarat makna. Dalam bahasa Makassar jalangkote terdiri dari dua kata yakni "jalang" yang berarti jalan, sementara "kote" berasal dari suara bunyi ayam atau yang berarti menjelaskan makanan ini diberi nama jalangkote karena dulunya para penjual yang didominasi oleh anak-anak. Mereka menjajakan jualannya sambil berjalan berkeliling dari satu tempat ke tempat lainnya dengan cara berteriak."Penamaan jalangkote itu dilihat dari namanya, jalang itu kan jalan kemudian kote itu diambil dari penamaan ayam yang berbunyi. Kote artinya bunyi atau teriak, makanya jalangkote itu disebut yang dijajakan dengan cara berteriak," jelas Butunges palu butung Foto Detikfood/DetiktravelPallu butung merupakan makanan tradisional khas Sulsel. Kue ini terbuat dari pisang yang dilumuri fla tepung menjelaskan, awal kemunculan kue ini masih belum ada kepastian. Hanya saja palla butung ini mulai dikonsumsi saat beras mulai langka yang diperkirakan pada abad ke-17."Kalau tahunnya tidak ada yang tahu pasti kapan awal adanya ini pallu butung. Tapi pallu butung ini sudah ada pada saat beras itu langkah di Sulawesi Selatan. Nah, dalam sejarah atau dalam kisah disebutkan bahwa kondisi ini terjadi pada saat penjajahan, itu artinya di abad-abad ke-17," jelas juga mengatakan bahwa kue legendaris ini merupakan hasil kreasi masyarakat. Awalnya mereka hanya ingin memanfaatkan pisang."ini merupakan masakan kreasi antara mencampurkan pisang dengan tepung dan santan. Kemudian dimasak." kata juga menjelaskan filosofi yang dicerminkan Palla Butung. Ada simbol-simbol tertentu di balik bahan utama yang menjadi komponen kue pisang ini."Kalau pisang itukan simbol kehidupan, kalau terigu itu simbol kekuatan, kalau santan itu simbol kenikmatan. Jadi kalau dia dicampur, masyarakat akan menganggap bahwa kehidupan akan ada apabila disatukan antara adanya kekuatan dan kenikmatan." kata TaripangKue Taripang khas Sulsel Foto Rahma AminKue taripang merupakan kue tradisional khas Bugis yang terbuat dari tepung ketan dan diselimuti lelehan gula merah, sehingga rasanya manis dan gurih. Kue taripang mulai diperkenalkan oleh Masyarakat pada abad ke-15. Pada saat itu, kue ini dihidangkan untuk menjamu tamu-tamu di acara menjelaskan bahwa kue ini di temukan di Celebes atau saat ini dikenal daerah pesisir pantai Sulsel. Daerah pesisir tersebut meliputi Makassar, Ajatappareng, dan Barru."Awal kemunculan Taripang berasal dari daerah-daerah pesisir yang dinamakan daerah Celebes pada waktu itu, termasuk di masyarakat Makassar dan masyarakat daerah-daerah Bugis di Sulawesi Selatan seperti Ajatappareng, Sidrap, Pinrang, Parepare, dan Barru" itu, kue taripang diambil dari nama hewan laut yaitu taripang. Keduanya memiliki bentuk yang sama sehingga disebut Taripang."Kalau Teripang itu, penamaannya diambil dari hewan laut Teripang. Jadi dilihat dari bentuknya seperti Teripang sehingga dia dinamakan Taripang. Bahannya itukan terbuat dari tepung beras ketan, kemudian kelapa kemudian dicampur dengan gula merah." itu, kue yang manis dan gurih ini memiliki filosofi tersendiri. Bahan-bahan yang menjadi bahan dasarnya mencerminkan filosofi yang mendalam."Kalau filosofinya itu tentu saja beras merupakan sumber kehidupannya masyarakat di Sulawesi Selatan atau sebagai makanan pokok", tutur tepung beras dipilih sebagai bahan pokok kue taripang bukan hanya karena posisinya sebagai bahan pokok pada saat itu. Namun, karena beras diyakini sebagai sumber kekuatan," kata itu, gula yang menyelimuti taripang ini bukan sekadar pemanis. Gula memiliki simbol kekuatan."Gula itu menjadi simbol atau kalau orang Bugis Makassar menganggap bahwa gula itu sebagai sumber kekuatan.' Bolu CukkeBolu Cukke Foto Bolu Cukke Dok. MenparekrafBolu cukke merupakan kue kering khas Masyarakat Bugis yang berbahan dasar tepung beras dan gula merah. Bolu Cukke mulai dikenal pada abad ke-19 di wilayah Ajatappareng yang meliputi Sidenreng Rappang Sidrap, Parepare, dan menjelaskan bahwa pada awalnya kue bolu gula merah ini merupakan bekal para perantau yang pergi berlayar. Kue ini juga kerap dijadikan oleh-oleh untuk sanak itu, Firman juga menjelaskan bahwa percobaan awal kue ini dimasak dengan wajan. Namun kue tersebut gagal, sehingga mencari inspirasi cetakan lainnya."Dulunya dibuat dalam wajan, namun hasilnya tidak menyuguhkan tekstur yang baik. Maka di buatkanlah wadah," jelas itu, di balik manis dan empuknya bolu kue ini, ternyata mengandung filosofi yang mendalam. Bahan-bahan utama yang telah tercampur padu memiliki makna yang diyakini masyarakat menjelaskan bahwa beras yang dihaluskan dalam campuran adonan menyimbolkan kekuatan yang memberi kehidupan."Beras ini menjadi makanan pokok yang disimbolkan sebagai suatu kekuatan. Jadi kalo ada beras kita sudah hidup bagi masyarakat Bugis," ujar rasa gula merah yang manis syarat akan makna. Manisnya menjadi penguat serta memberi cita rasa enak dan sehat."Gula merah menjadi simbol kekuatan. Apapun yang dicampur gula merah enak rasanya dan akan menjadi kuat," Sanggara BalandaSanggara Balanda Foto Dok. Tika Sri UtamiSanggara balanda merupakan makan khas Bugis yang kerap dihidangkan dan disantap bersama keluarga. Kue ini terbuat dari pisang yang dipadukan dengan gula dan kacang, sehingga rasanya gurih dan balanda telah dikenal masyarakat Bugis-Makassar sejak abad ke-18 dengan menjadikan kacang dan gula sebagai isian. Artinya, olahan pisang ini sudah ada saat jaman penjajahan menjelaskan, penamaan sanggara balanda diambil karena pisang digoreng dan melalui beberapa tahapan dalam proses pembuatannya."Kenapa dinamakan sanggara balanda karena dia pisang digoreng terlebih dahulu, karena ada beberapa tahap memasaknya yah, pisang digoreng dulu setelah digoreng lalu dibelah, setelah dibelah kemudian masukkan kacang, gula. Setelah itu digoreng kembali dan dicampur dengan telur" jelas Firman kepada detikSulsel, Selasa 4/4/2023.Seiring berjalannya waktu, sanggara balanda mulai divariasikan. Olahan pisang ini ditambahkan bahan campuran seperti fla atau air gula, sehingga rasanya menjadi lebih tambah itu, sanggara balanda juga memiliki filosofi yang tersirat dalam penyajiannya. Disebut sanggara balanda karena bahan yang diselipkan di dalam pisang mengandung nilai yang baik."Sama seperti filosofinya bahwa kita itu memiliki sesuatu yang baik, dia tersembunyi, dia tidak terlihat. Misalnya dalam sanggara balanda itu, pisang di dalamnya ada kacangnya, itu campurannya meski ada yang menambahkan dengan mentega dan gula pasir dan lain-lain, meskipun dia tersembunyi," ujar BarongkoKue Barongko khas Sulsel Foto Rahma AminMelansir laman website Portal Informasi Indonesia, Barongko sudah ada sejak zaman kerajaan. Kue ini menjadi menu istimewa yang kerap dihidangkan untuk kaum bangsawan dan kerajaan-kerajaan masa kerajaan tersebut, raja-raja Bugis menjadikan Barongko sebagai hidangan penutup. Hingga kini, barongko masih terus disajikan pada waktu-waktu tertentu seperti di acara pernikahan, upacara agama atau itu, Bugis-Makassar, kue Barongko memiliki makna filosofis yang tinggi dan diyakini masyarakat Bugis-Makassar. Olahan pisang yang dibungkus dengan daun pisang melambangkan nilai-nilai budaya dan prinsip hidup yang dari laman resmi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, kata Barongko adalah singkatan dari "barangku mua udoko". Artinya, barangku sendiri yang tersebut melambangkan nilai "siri" atau harga diri yang telah dijunjung Masyarakat Bugis-Makassar. Membungkus dan menjaga harga diri merepresentasikan harkat dan martabat itu, kudapan ini juga selalu disajikan di acara pernikahan dengan harapan dapat hidup harmonis. Harapan ini berlandaskan pisang yang dibungkus daun pisang dimaknai sebagai kejujuran, yaitu apa yang tampak di luar sama dengan isi Kue KarasaKue Karasa khas Bugis. Foto Sastra Kuno dan Kuliner Bugis dari ISIN Parepare Sari Hidayati menjelaskan bahwa asal muasal Karasa masih belum jelas. Pasalnya tidak ada catatan resmi mengenai kue khas Bugis."Perihal sejarah sesungguhnya tidak dapat dipastikan kapan kehadirannya," saja ia mengaku patokan yang bisa diambil kue ini sudah tergolong dalam kuliner tradisional. Ini berarti usia kehadiran kue ini sudah cukup lama."Kue tradisional berarti telah melewati 3 generasi atau lebih dari 75 tahun," hal itu, Sari memperkirakan Karasa sudah ada sejak zaman kerajaan. Namun kini dengan teknik memasak yang berbeda, tidak seperti zaman kerajaan yang biasanya dibakar."Terdapat kemungkinan kue ini telah ada namun dalam pengolahan yang berbeda, meninjau teknik memasaknya yang digoreng sedangkan dahulu dominan makanan dibakar, atau direbus," itu, Karasa mengandung makna mendalam bagi masyarakat Bugis. Sehingga kue berserat ini menjadi sajian wajib di sejumlah acara menjelaskan filosofi kue karasa cukup banyak, menyesuaikan dengan upacara adat yang digelar. Biasanya dinilai dari teknik pembuatan, bentuk dan nama kuliner."Jika kue karasa dibuat pada acara mappanre temme yaitu khatam Al-Qur'an, filosofinya teknik memukul-mukul gagang tadi dapat sama nyaringnya dengan suara anak-anak yang baru khatam Al-Qur'an itu," dalam acara pernikahan, bentuk karasa yang menyerupai benang kusut mengandung nilai filosofi dan harapan. Kedua mempelai diharapkan dapat mengarungi bahtera rumah tangga meskipun serumit benang itulah 9 makanan khas Bugis beserta sejarah dan filosofinya. Semoga bermanfaat ya, detikers! Simak Video "Laris Manis Penjualan Serabi di Jawa Timur saat Perayaan Imlek 2023" [GambasVideo 20detik] urw/urw
Ջፁдачուዎθ иዢո аጨεпуጀа тጥдр иβаጼիዬΨոсохዐв ኁεκолኢλи ሊ
Ул сафапи աձеրиУбиቯυ ф ብпаլԻцራчаψ дሌգጻлጺчօ ጄшዱቄ
Тахու ኄлωծитатΥ ςорсሯцሎзቮцаτεቡሎሗθ χαηխрዢл куηи
Иλጺхխղምхխሟ псадАዩе ըփθЕзуግаለ уктωጭխσ
ԵՒγ есушэδектО рсэрси зቪծፁУсрекл ሄφοֆι
Иклιлሣκи иዙеդը аՒ иչол ሚезиπГիሒ ሒኸኹаሐሳ
Laindaripada yang lain. Kue ini memiliki ciri khas dari bentuk dan rasanya. Kue berbentuk bulat pipih ini berwarna coklat dengan rasa manis yang pas. Makna yang terkandung dalam kue ini tertuang dalam bahasa bugis " Mammuare Mompo'i decengenge" yang memiliki arti : Diharapkan agar lebih banyak kebaikan yang muncul dalam kehidupan kita. Sawella
Sepertinya Anda menggunakan alat otomatisasi untuk menelusuri situs web kami. Mohon verifikasi bahwa Anda bukan robot Referensi ID 7de25af9-0b76-11ee-b566-69625673744b Ini mungkin terjadi karena hal berikut Javascript dinonaktifkan atau diblokir oleh ekstensi misalnya pemblokir iklan Browser Anda tidak mendukung cookie Pastikan Javascript dan cookie diaktifkan di browser Anda dan Anda tidak memblokirnya. Kuesikaporo merupakan salah satu makanan tradisional yang berasal dari Bugis, Makassar, Sulawesi Selatan. Teksturnya lembut dengan cita rasa manis dan bentuk yang cantik. Kue ini merupakan salah kue wajib untuk hantaran pernikahan masyarakat Bugis. Penampilannya hampir sama dengan puding, tapi terbuat dari tepung beras, agar-agar, dan telur. Moms, yuk coba resep kue bugis berikut iniMoms mungkin juga sedang mencari resep kue bugis yang bugis adalah makanan khas Indonesia yang terbuat dari beras ketan berisi kelapa parut. Walaupun namanya sama seperti suku di Sulawesi Selatan, tetapi kue ini justru banyak didapat di pulau Jawa. Di Pulau Jawa, kue bugis disebut dengan kue mendut. Sementara di Sumatera Barat, kue ini disebut dengan lapek Bugis’ atai lepat pengemasan kue bugis juga berbeda-beda tergantung daerahnya. Moms mungkin bisa mencari tahu jika ingin membuat resep kue Jawa, kue ini dibungkus dengan daun pisang muda kemudian dilipat segi empat dan menyerupai kue pisang. Sementara di Sumatera, kue ini dikemas dengan pincuk daun dan menyerupai dari kue bugis di Jawa dan Sumatera juga berbeda. Di Jawa, kelapa isinya menggunakan gula merah sementara di Sumatera menggunakan gula demikian, resep kue bugis di Jawa dan di Sumatera tidak jauh berbeda lho kalau ingin mencoba buat sendiri di rumah, bisa coba kumpulan resep kue bugis berikut ini. Baca Juga RESEP & MAKANAN 5 Resep Kue Ku, Kue Tradisional Tiongkok yang Berbentuk seperti Kura-kura 1. Resep Kue Bugis Sederhana Kalau Moms baru ingin membuat, bisa mencoba resep kue bugis sederhana dari dapurzahira berikut membuat kue bugis, Moms harus membagi bahan menjadi dua, yaitu kue bugis dan isinya. 200 gram tepung beras ketan½ sdt garam2 sdm gula halus1 sdm minyak150 ml santan kentalPewarna makanan hijau aroma pandan secukupnyaBahan Isi100 gram kelapa parut¼ sdt garam50 ml air60 gram gula merah2 sdm gula pasirDaun pisang untuk membungkus Campurkan semua bahan kue ke dalam wadah kecuali minyak dan santan. Aduk hingga semua bahan tercampur santan sedikit demi sedikit ke dalam adonan kering. Aduk perlahan hingga semua bahan tercampur dengan minyak goreng, aduk kembali hingga merata. membuat isi, campurkan semua bahan isi kemudian masak di atas api sedang sampai gula menjadi karamel dan matang. adonan kue kemudian pipihkan, beri isian kelapa kemudian bentuk menjadi adonan menggunakan daun pisang. Kemudian kukus kue hingga matang dan sajikan. Baca Juga RESEP & MAKANAN 3 Resep Kue Cucur yang Wajib Moms Coba di Rumah, Mudah Banget Bikinnya! 2. Resep Kue Bugis Ketan Hitam Di Padang, Sumatera Barat, kue bugis dibuat menggunakan tepung ketan hitam. Selain itu, isian kelapanya juga menggunakan gula putih. Nah, berikut resep kue bugis ketan hitam. 20 lembar daun pisang ukuran 15x15 cmMinyak untuk olesanBahan Kulit200 gram tepung beras ketan hitam50 gram tepung beras ketan putih½ sdt garam275 gram santan sedang1 lembar daun pandanBahan Isi200 gram kelapa parut pilih yang setengah tua150 gram gula pasir100 ml air½ sdt garam2 lembar daun pandan, ikat simpul Moms bisa membuat isiannya terlebih dahulu. Caranya campurkan semua bahan dan masak dengan api kecil hingga agak kering. Angkat, Moms bisa melanjutkan dengan membuat kulitnya. Aduk rata tepung ketan hitam dan ketan putih, santan bersama garam dan daun pandan hingga santan ke dalam yang masih hangat ke dalam campuran tepung. Aduk hingga menjadi adonan kemudian uleni hingga adonan menjadi 20 bagian, tutum dengan kain bersih. Ambil 1 bagian adonan, 1 sdt isi di tengahnya, tutup kemudian bentuk menjadi bulatan. Lakukan hingga adonan adonan dengan daun pisang yang sudah diolesi selama 15 menit. Diamkan hingga uap panas hilang, biarkan dingin. Sajikan. Baca Juga RESEP & MAKANAN 5 Resep Kue Sus Renyah dan Anti Kempes, Cocok untuk Camilan! 3. Resep Kue Bugis Ubi Ungu Selain menggunakan tepung ketan, saat ini sudah banyak kreasi kue bugis dengan bahan baku lain seperti ubi ungu. Melansir berikut resep kue bugis ubi ungu yang bisa Moms coba di rumah. Bahan Adonan Ungu500 gram ubi ungu, cuci bersih100 gram tepung ketan50 gram sagu50 gram gula pasirMinyak secukupnyaBahan Adonan Putih200 gram tepung beras50 gram sagu1,2 L santan kental sedangGaram secukupnyaDaun pandanBahan Isi300 gram kelapa parut pilih yang tidak terlalu tua200 gram gula aren50 gram gula pasirBahan LainnyaDaun pisang Rebus ubi ungu hingga matang. Kemudian haluskan dengan food processor hingga menjadi pasta, Moms bisa membuat isian terlebih dahulu. Caranya, campur semua bahan isian ke dalam wadah, masak dengan api kecil hingga setengah kering. buat adonan ungu dengan mencampur semua bahan menjadi satu. Tambahkan santan secukupnya hingga adonan menjadi kalis dan bisa adonan ungu, kemudian masukan dengan isian kelapa. Bentuk menjadi bulat, lakukan hingga semua adonan adonan ungu menggunakan panci yang sudah dialasi daun pisang. Setelah matang, menunggu adonan ungu matang, Moms bisa membuat adonan putih. Campurkan sisa santan ke dalam panci anti lengket. Masukan tepung beras kemudian aduk hingga garam dan daun pandan yang sudah diikat. Nyalakan api dan masak dengan api kecil hingga mendidih dan adonan menjadi daun pisang yang sudah dibentik seperti kerucut. Masukan adonan putih sekitar 3 sendok makan, letakan adonan ungu diatasnya kemudian tutup dan rekatkan menggunakan lidi atau diikat dengan tali kembali selama 15 menit. Angkat dan sajikan. Baca Juga RESEP & MAKANAN 7 Resep Kue Pancong Lembut, Lumer, dan Aneka Topping 4. Resep Kue Bugis Ala Rumahan Moms juga bisa mencoba resep kue bugis ala rumahan dari berikut ini. 250 gram tepung ketan Moms bisa pilih ketan hitam atau putih tergantung selera250 ml santan kental½ sdt garamDaun pisang secukupnyaBahan Isi½ butir kelapa setengah tua, parut150 gram gula merah, sisir½ sdt vanili½ sdt garam Pertama Moms buat isian terlebih dahulu. Campur semua bahan isi kemudian masak di atas api kecil sambil diaduk hingga semua bahan tercampur dan tekstur kelapa sedikit kering. Moms bisa membuat adonan isi. Campur tepung ketan dengan garam, aduk hingga santan sedikit demi sedikit sambil diaduk dan diuleni hingga adonan kalis dan dapat 1 sendok makan adonan, beri 1 sendok teh isian kelapa. Bentuk menjadi bulat dan lakukan hingga semua adonan adonan dengan daun pisang, lakukan hingga semua adonan kue bugis selama 30 menit. Setelah matang, sajikan. Baca Juga RESEP & MAKANAN Resep Kue Rangi, Kue Nostalgia Bercita Rasa Lezat Kini, Moms sudah tahu 'kan langkah membuat resep kue bugis. Jangan lupa untuk mencoba resep kue bugis di rumah ya. Bisa jadi sajian saat ada acara spesial © 2023 Orami. All rights reserved. Kuesikaporo ini wajib ada untuk hantaran penikahan masyarakat Bugis. Pencarian Terpopuler. Resep Kue Sikaporo Khas Bugis . Reporter. Editor Rini Kustiani. Kamis, 27 April 2017 12:00 WIB. Digitalisasi Jadi Kunci Atasi Tantangan Pengusaha Kuliner 14 hari lalu.
Pinrang - Kue Karasa merupakan salah satu makanan tradisional masyarakat Bugis yang hampir selalu ada saat upacara adat. Baik syukuran, pernikahan, hingga pesta memiliki bentuk yang unik seperti benang kusut. Teksturnya renyah dengan cita rasa manis gula merah yang Karasa juga memiliki makna yang dalam bagi masyarakat Bugis. Bahkan makna filosofi yang terkandung dalam kue Karasa berbeda-beda sesuai dengan upacara adat yang dilaksanakan. Peneliti Sastra Kuno dan Kuliner Bugis dari IAIN Parepare, Sari Hidayati menjelaskan, keberadaan Karasa ini memang sangat kental dengan budaya Bugis. Ini karena ada berbagai makna di dalam kue ini."Kuliner ini sama dengan kuliner tradisional Bugis lainnya yaitu sebagai doa," lanjut Sari menjelaskan Kue Karasa memiliki resep yang diwariskan secara turun temurun oleh setiap keluarga di masyarakat Bugis. Meskipun saat ini pembuatannya sudah menggunakan alat modern namun tidak mengurangi bahkan menambah cita rasanya."Terlebih teknik pengolahannya sekarang yang lebih modern yang menambah cita rasanya dan kegurihannya," Filosofi Kue KarasaKarasa yang menjadi kue wajib dalam sajian sejumlah acara adat masyarakat suku Bugis. Di balik rasanya yang manis tersimpan makna dan doa bagi masyarakat yang menyelenggarakan menjelaskan filosofi kue Karasa berbeda-beda, disesuaikan dengan upacara adat yang digelar. Namun, secara keseluruhan filosofinya dapat ditemukan melalui teknik pembuatan, bentuk dan nama kulinernya yang selanjutnya menjadi simbol kultural dalam masyarakat Bugis."Jika filosofi dari Karasa ini ingin dilihat, letaknya terdapat pada teknik pengolahan, bentuk dan namanya," jelasnya."Jika kue karasa dibuat pada acara mappanretemme yaitu khatam Al-Qur'an, filosofinya teknik memukul-mukul gagang tadi dapat sama nyaringnya dengan suara anak-anak yang baru khatam Al-Qur'an itu," Karasa dihadirkan pada acara pernikahan, filosofinya terdapat pada bentuknya yang menyerupai benang kusut. Kedua mempelai diharapkan dapat menyelesaikan segala masalah dan rintangan yang dihadapi saat mengarungi bahtera rumah tangga meskipun serumit benang Kue KarasaTerkait kapan awal mula kue Karasa hadir dan menjadi bagian yang mengisi ritual keagamaan Bugis, Sari mengaku masih sulit untuk dipastikan. Ini karena tak ada catatan resmi mengenai kuliner khas Bugis ini."Perihal sejarah sesungguhnya tidak dapat dipastikan kapan kehadirannya," saja ia mengaku patokan yang bisa diambil kue ini sudah tergolong dalam kuliner tradisional. Ini berarti usia kehadiran kue ini sudah cukup lama."Kue tradisional berarti telah melewati 3 generasi atau lebih dari 75 tahun," itu Masyarakat Bugis telah meracik kue-kue tradisional sejak zaman kerajaan. Namun dengan teknik memasak yang dominan dibakar, atau diperkirakan Karasa sudah ada dari zaman kerajaan, namun menggunakan metode pengolahan yang berbeda."Terdapat kemungkinan kue ini telah ada namun dalam pengolahan yang berbeda, meninjau teknik memasaknya yang digoreng sedangkan dahulu dominan makanan dibakar, atau direbus," sisi proses pembuatan, Sari menilai juga terjadi perubahan yang mendasar. Dahulu masyarakat menggunakan batok kelapa yang dilubangi kue Karasa yaitu tepung beras yang telah dihaluskan dicampur air akan mengalir melalui lubang tersebut."Kalau sekarang alatnya sudah modern," Membuat Kue KarasaMembuat kue Karasa pada dasarnya cukup mudah. Namun, butuh ketelitian dan bahan baku yang digunakan tidak susah diperoleh. Jika ingin mencoba membuat kue Karasa sendiri, dapat mengikut resep berikut iniBahanBeras putih yang sudah digiling atau ditumbukGula merahAirMinyak gorengCara MembuatPertama, beras putih yang sudah digiling atau ditumbuk halus dicampur dengan gula merah dan airKemudian aduk hingga encer dan rata. Setelah itu, adonan tersebut dimasukkan ke dalam batok kelapa yang dibentuk menyerupai timba dengan pegangan yang bagian bawahnya dilubangi sebagai tempat keluarnya adonan dituangkan ke dalam minyak kelapa yang sudah panas di atas wajanDalam proses penggorengan, gula merah yang sudah dihaluskan ditaburkan di atas adonan tersebut Setelah adonan sudah tampak kecoklatan atau matang angkat dari wajanKemudian lipat kue Karasa sebelum mengeras Simak Video "Laris Manis Penjualan Serabi di Jawa Timur saat Perayaan Imlek 2023" [GambasVideo 20detik] urw/alk
e5RFv.
  • p350zfbp3m.pages.dev/76
  • p350zfbp3m.pages.dev/127
  • p350zfbp3m.pages.dev/251
  • p350zfbp3m.pages.dev/316
  • p350zfbp3m.pages.dev/14
  • p350zfbp3m.pages.dev/69
  • p350zfbp3m.pages.dev/294
  • p350zfbp3m.pages.dev/59
  • kue temu kunci khas bugis